Rabu, 25 Mei 2011

Penokohan TAIKO Buku 7



1.       Hashiba Hideyoshi adalah jendral dari klan Oda yang kesetiaannya tiada tanding, penuh optimisme, serta orang yang mudah mempelajari medan tempur.
“Dalam sekejap ia telah mempelajari medan dan hubungan antara ketujuh benteng musuh. Ia juga dapat mengawasi pergerakan pasukan dari markas besar pihak Mori, sehingga setiap pengiriman bala bantuan takkan luput dari perhatiannya.” (TAIKO : 732)
“Jangan putus asa, Kanbei. Kita masih punya tujuh hari lagi.” (TAIKO  739)
“Pasti bisa.” Untuk pertama kali ucapan Hideyoshi berlawanan dengan ucapan Kanbei.” (TAIKO : 739)
“Walau tak berarti, aku takkan berpaling dari junjunganku dan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikannya. Itulah janji Hideyoshi. Dan ia bersungguh-sungguh.” (TAIKO : 832)
Pada kutipan Taiko halaman 832, kesetiaan Hideyoshi kepada junjungannya kembali ditunjukkan pada Taiko buku delapan; ia membalas kematian Oda dengan menghancurkan Klan Akechi.
2.       Oda Nobunaga orang yang paling berkuasa di Jepang di abad pertengahan adalah seorang samurai yang memiliki cita-cita setinggi langit, bersemangat tinggi, dan orang yang sukar dipuaskan.  Ia juga orang yang tidak menutup diri dengan kebudayaan baru, bahkan dari luar Jepang seklaipun.
“Itulah ciri Yang Mulia Nobunaga. Rupanya beliau sendiri ikut terjun ke kancah pertempuran. Beliau tentu bersemangat tinggi.” (TAIKO : 727)
“Nonunaga mempunyai cita-cita yang bahkan tak terbayangkan oleh orang yang hati-hati seperti Ieyasu, dan ia juga dianugerahi kemauan untuk mewujudkan cita-citanya itu.” (TAIKO : 751-752)
“Kumpulkan saja semuanya dan bawa ke sini. Pasti akan ada manfaatnya bagi budaya kita. Kini segala macam barang dari laut Barat dan Selatan. Penetrasi ke wilayah Timur takkan dapat dicegah.” (TAIKO : 805)
“Nobunaga laki-laki yang
 sukar dipuaskan, ….” (TAIKO : 829)
“Ini berarti orang yang paling berkuasa di seluruh Jepang kini bertetangga dengan mereka.” (TAIKO : 798)
Nobunaga yang memiliki kebijakan mengenai budaya asing yang masuk ke Jepang saat itu mengatakan kalimat tersiratnya bahwa biarkan budaya asing masuk, ambil baiknya lalu buang yang tidak baik dan tidak berguna.
3.       Akechi Mitsuhide seorang jendral Klan Oda yang dipanggil kepala jeruk oleh Nobunaga karena kepalanya yang seperti jeruk dan botak. Ia orang yang pandai dan lembut hati. Ia juga yang memimpin pemberontakan melawan junjungannya; Odan Nobunaga.
“Akhirnya, pelan-pelan, ia mengangkat kepalanya yang oleh Nobunaga disebut “kepala jeruk”, dan menatap ke pekarangan yang gelap.” (TAIKO : 752)
“Mitsuhide dianugerahi kemampuan menelaah yang jauh melebihi orang kebanyakan,…” (TAIKO : 753)
“Mitsuhide memang junjungan yang berhati lembut.” (TAIKO : 757)
“Bahkan ketika membayangkan kepala Mitsuhide yang botak mengilap,….” (TAIKO : 827)
“..Mitsuhide berdiri di sanggurdi, mendadak mengacungkan cemeti dan berseru, “ke Kuil Honno! Serbu kuil itu! Musuh-musuhku ada di Kuil Honno! cepat! cepat! aku sendiri akan menghabisi siapa saja yang berlambat-lambat!” (TAIKO : 813)
4.       Kuroda Kanbei pengikut Hideyoshi yang cacat adalah orang yang profesional, pejuang handal yang tak kenal lelah, serta orang yang mampu membaca arus perubahan zaman, siapa yang akan menjadi penguasa, dan siapa yang akan jatuh.
“Tanpa tongkat penyangga, Kanbei masuk terpincang-pincang.” (TAIKO : 729)
“Mengapa Kanbei berada di garis depan saat hujan seperti ini? Seperti biasa, Hideyoshi terkesan oleh semangat Kanbei yang tak kenal lelah.” (TAIKO : 734)
“Setiap kali menemukan seseorang yang bekerja setengah hati, ia bergegas menghampiri dengan kecepatan yang tak terbayangkan bagi orang cacat, dan menghajar orang yang bersangkutan dengan tongkat.” (TAIKO : 739)
“Ini bukan karena marga Mori lemah, melainkan karena perubahan zaman. Mengertikah kalian?” (TAIKO : 743)
Kanbei yang mengerti arus perubahan zaman juga didukung pada taiko buku sebelumnya; yakni buku lima bab menara-menara azuchi pada halaman 576-577.
5.       Akechi Mitsuharu sepupu Akechi Mitsuhide dan salah satu jendral klan Oda dari klan Akechi adalah orang yang tenang dan tidak mudah terbawa emosi.
“Ketika berdiri di muka gerbang yang dipimpin oleh sepupunya, Akechi Mitsuharu, ia merasa seolah-olah berhasil meloloskan diri dari sarang macan.” (TAIKO : 756)
“Sikap Mitsuharu tenang, dan ketiga laki-laki itu segera mengendalikan diri. Sepertinya mereka menyangka akan berhadapan dengan api, tapi hanya melihat air.” (TAIKO : 760)
“Mitsuharu mendengarkan semuanya tanpa membiarkan roman mukanya berubah.” (TAIKO : 761)
6.       Shimizu Muneharu sang panglima benteng Takamatsu yang berusia lima puluh tahun, seorang jendral yang setia dan sampai mati mengikuti jalan samurai. Ia orang yang tenang, jujur, tidak banyak lagak,rendah hati, sederhana, serta orang yang ramah.
“Usianya sekitar lima puluh tahun, rendah hati, dan berpakaian sederhana….Orang itu demikian bersahaja, sehingga ia mungkin dianggap sebagai kepala kampung, seandainya tidak membawa pedang dan disertai pelayan.” (TAIKO : 729)
“Apapun yang mereka katakan padanya, ia hanya mengulangi dengan ramah dan penuh hormat.” (TAIKO : 730)
“Ia tidak sekedar berbasa-basi, dan kedua utusan pun sadar bahwa ia memang orang yang ramah. Muneharu musuh mereka, tapi kejujurannya tak perlu diragukan.” (TAIKO : 731)
7.       Tokugawa Ieyasu sekutu kuat Oda Nobunaga orang yang sabar, rendah hati, sederhana, dan berhati-hati. Ia disebut oleh Nobunaga sebagai ‘kawan lama yang setia’.
“Nonunaga mempunyai cita-cita yang bahkan tak terbayangkan oleh orang yang hati-hati seperti Ieyasu,...” (TAIKO : 750)
“Ieyasu, Nobunaga pun mengakui, mempunyai kelebihan yang tak dimilikinya, yakni kesabaran, kerendahan hati, dan kesederhanaan.” (TAIKO : 751)
“Nobunaga tergerak untuk menyebut Ieyasu ‘kawan lama yangs setia’.” (TAIKO : 751)

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google